Sabtu, 07 Februari 2015

Bosan

       Bosan aku di sini, berkutat dengan komputer yang sama, saban hari berada di lingkungan yang sama, dan bergaul dengan orang yang itu-itu saja. Aku merasa hidupku statis, stagnan, jalan di tempat bak katak dalam tempurung. 

       Jenuh membelengguku, hingga aku berontak dalam diri. Aku ingin pergi jauh ke negeri entah berantah. Pergilah engkau pekat, jangan menggangguku. Ingin kususuri jalan, walau tanpa tujuan , yang penting hati senang bertemu orang-orang baru, jalan yang tak pernah dilewati, atau sekedar nongkrong di warung kopi yang belum pernah dijajaki. Kuda besiku, bosankah kau menemanuku?semoga tidak, sobat.

Kamis, 05 Februari 2015

Apa Kabar Kawan?

     Apa kabar kawan? Di sini, aku baik-baik saja, melihat kota yang paling lengkap di negeri ini. Kota yang segalanya serba wah... baik pusat perbelanjaannya, infrastrukturnya, transportasinya.
     Aku sedang mengetik di sebuah perpustakaan, sekedar menjentikkan jari di papan keyboard sebuah komputer.
     Di luar sana mendung, membuat aku khawatir kalau bepergian, mengingat musim hujan yang sedang  berada di puncaknya. 

Iri (catatan 15 Oktober, 2014)

         Rasa iri membenak di hati. Mudah-mudahan ini adalah iri yang positif. Bagaimana tidak? Helvy Tiana Rosa dan Asma nadia yang umurnya tidak jauh dariku. Mereka telah menelurkan lebih dari 50  buku dan ratusan cerpen. . Helvy Tiana Rosa lahir di tahun 1970 dan Asma Nadia lahir 1972. Lhaa... aku yang lahir di tahun 1976 belum satu buku pun yang diterbitkan?
       Kalau melihat prestasi kakak beradik itu (Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia) rasanya geregetan, aku ingin membuat tulisan yang bisa mengguncang dunia. Apakah aku konyol? aku sendiri tak tahu. Yang jelas, aku pernah mendengar  kutipan kata-kata bijak, yang diucapakan  Deddy Corbuzier dalam sebuah tayangan di televisi,  "Kadang orang di sekitar kita mencoba memupuskan harapan kita. Ketika dunia menyuruh anda menyerah. Harapan berkata, coba sekali lagi.". Kata-kata itulah yang membuat saya bangkit. Move on kata anak-anak jaman sekarang.

Rabu, 04 Februari 2015

Diary 5 Februari 2015, jam 3 pagi

     Gak terasa gaung tahun baru 2015 udah memudar, sekarang udah tanggal 5 Februari 2015. Gak terasa man! udah tanggal segini... gila kaaan? gue ngerasa belom ngapa-ngapain. Eh... 2015 udah berjalan selama sebulan... gila man! gilaaa!

     Catatan takdir, sekarang gue menjalani titian angka 38 tahun. Usia yang orang bilang,  "Tinggal nyicipin enaknya hidup", punya anak bini, kehidupan yang mumpuni. Tapi apa mau dikata... hidup gue begini, ya begini... gak mungkin jalanin hidup orang laen, begono!

    "Biarkan hidup ini mengalir seperti air," begitulah kata pepatah orang banyak. Tapi gak selalu mengalir secara normal, kadang ada yang mengalir kayak banjir bandang, deresnya gak alang kepalang, kadang juga kayak kencing anak orok, encret-encretan.

    Bagaimana juga man, masih banyak yang kudu gue syukurin. Masih untung gue gak tinggal di kolong jembatan. Masih untung gue masih bisa makan, ketemu nasi, lauk pauk and lalapan. Gue gak kuat kalo ngebayangin orang yang tinggal di kolong jembatan sono. Mereka tidur beralaskan koran, yang tiap hari dibayangin kekerasan preman. Gue gak kuat man!

    Jadi, walaupun bagaimana juga masih banyak yang bisa disyukurin, terutama dari hal-hal yang dekat, yang nempel di badan. Gue punya sepasang bola mata, yang dengannya gue bisa ngeliat cewek-cewek cakep, pemandangan yang endah-endah (saking indahnya). Ya itulah kawan... itu baru dari mata, belom dari nikmatnya punya tangan, kaki, lidah, rambut, kuping, gigi, dan masih banyak lagi. Coba lo bayangin kalo lo gak punya gigi? lah kalo kondangan gak bakali bisa ngerasain nikmatnya semur daging, mantaaap! tul gak? ternyata syukur adalah jawaban.

    Gue inget temen gue, si Asep, yang petuahnya gak pernah ilang dari ingetan gue, " Dalam hidup ini, yang terpenting adalah satu, rasa syukur kepadaNya."

    Hari makin mendekati shubuh, udah dulu yaa... mo mandi, biar seger, ger... geeerrr...



Ingin Melompat

     Rasanya aku ingin melompat... melintasi awan. Aku ingin tulisan-tulisanku menembus bumi dan mencakar langit ketidak mungkinan. Aku harus maju, melangkah, melangkah dan terus menikmati setiap apa yang aku tulis, aku suarakan lewat penaku. 

     Tak sabar rasanya ingin melewati penulis-penulis muda yang sudah besar dan terkenal lebih dulu. Apalagi yang usianya lebih muda dariku, seperti Tere Liye, Raditya Dika dan Agnes Donovar. Membuat diri ini ingin melompat, melompat dan melompat melebihi mereka, karena start-ku tertinggal. Tapi menurut nasehat teman-temanku, "Sukses tak mengenal kata umur". Tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Insya Allah aku kan terus menulis.  Wallahu a'lam Bisshawab.

Tiada Kata

     Tiada kata yang keluar dari mulut. Hanya hatiku yang komat-kamit tak menentu. Siang ini di sebuah perpustakaan, aku masih mengetik dengan tangan yang lemas. Tubuhku seakan tak bertenaga. Karena apa? aku pun tak tahu.

     Yang jelas aku sedang dirundung kegalauan. Kegalauan atas banyak hal, seperti halnya jodoh yang tak kunjung datang, karir yang begitu-begitu saja, yang membuat ayahku sering marah-marah karena tak sabar melihat kesuksesanku. Tak sabar melihat anaknya hidup mandiri. tak lagi mendompleng orang tuanya. Pikiranku berkata, "Bagaimanakah memecah kebuntuan?" Tunjukkanlah jalan, Tuhan... doaku dalam hati.

Selasa, 04 November 2014

Sang Kreator Kayu (Cerpen)

      Aku terkurung dalam sebuah pasar. dengan membawa peti-peti kayu bekas penyangga panggung yang nyaris terbuang. Semula aku tak tahu, "Harus diapakan kayu-kayu itu? Tapi aku ayunkan saja palu, membongkarnya tanpa basa-basi. Aku bayangkan menabuh irama, seperti kebiasaanku sebagai drummer di sebuah band di Tangerang. Ketukan-ketukan palu aku anggap nada.
      Dalam kebisingan Pasar Lama Tangerang, aku terus mengolah kayu menjadi sesuatu. Semuanya mengalir begitu saja, tanpa skenario yang pasti. Aku beraksi, diiringi keriuhan para pedagang yang menjajakan barang, suara parau pembeli menawar harga semurah-murahnya. Suara hentakan golok yang menghempas batok-batok kelapa, dan gerobak-gerobak sayur yang melintas secara bergegas.
     Berminggu-mingu tangan-tangan lincahku terus bergerak, siang dan malam. Tapi mata dan telinga tetap peka terhadap sekelilingku yang pengap dan bau. Sampai aku tahu pasti kalau jam 10 malam ada gadis cantik yang lewat. Jam 2 pagi, ada 4 wanita dengan dandanan menor melintas. Jam 4 pagi, tiga dara muda jalan beriringan, menuju kos-kosan di belakang pasar.
     Waktu terus berlanjut pagi,  segerombolan anak SD melewatiku. Dan seorang dari mereka bertanya padaku,

      "Lagi bikin kandang ayam Om?"
    "Bukan dik", jawabku seraya menghentikan irama palu.Aku tersenyum pada mereka, seperti pada anak-anakku sendiri. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan ke sekolahnya.
     Kayu-kayu itu aku susun satu persatu, aku rangkai dan kutancapkan paku sebagai perekat. Tangan-tanganku seolah tak mau berhenti merakit papan-papan itu. Sesekali aku berhenti, sekedar buat menghisap sebatang rokok dan menyeruput secangkir kopi.

                                                                             ***
Di suatu siang,
     Brak, brak! Tiba-tiba ada seseorang yang menginjak kayu-kayuku, beberapa dan yang patah. pemuda berkepala botak berhenti persis di hadapanku dengan terengah-engah.
        Woi! Mau ngapain luh? selidikku. Tapi belum sempat ia menjawab, tiba-tiba seorang pria tinggi besar berambut gondrong melayangkan tinjunya ke wajah lelaki botak berkaos oblong itu. Lalu si botak yang berperawakan sedang itu membalas dengan geram. Terjadilah perkelahian brutal. Orang-orang yang ada di sekitar situ berkerumun.  dan melongok, ingin tahu apa yang terjadi.Si tinggi besar berjaket blue jeans, mencabut sebilah belati. Dan mengancam,
       "Gue tusuk luh!
       "Emang gue takut?", timpal si botak, sambil memungut balok kayu yang tadi terinjak.
      "Berhenti! teriakku, masih menggenggam palu. Walaupun badanku kurus, tak surut nyali untuk melerai baku hantam mereka.
      "Eh... lu jangan ikut campur, ini urusan gue sama dia!" sambil tangan kirinya menunjuk si botak.
     "Eh! Elu-elu kalo berantem jangan di sini, menggangu kepentingan umum tahu? udah bikin kacau kerjaan  gue!" teriakku, sambil mengacungkan palu.
    Lalu mereka mereka melangkah dengan lesu. Si gondrong berjaket jeans menyarungkan belatinya. Sementara si botak melepas balok kayunya. Mereka menerobos kerumunan bapak-bapak, ibu-ibu dan para pedagang yang menonton mereka.
      "Minggir! Teriak si gondrong . Orang-orang di sekitarnya bergeser ke samping, memberi jalan buat lelaki seram itu.
        "Bubar! bubar! Emang kita topeng monyet?", sambar si botak, kesal dengan penonton liar yang merubunginya. Kerumunan pun bubar, menjauh dari TKP.
         Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Aku memang tidak mau tahu, karena perkelahian sudah bias terjadi di sini. Aku masih memegang palu, dan tersenyum. Sambil bergumam, "Hai palu, ternyata selain engkau bisa menghasilkan nada, bisa menghentikan orang berkelahi juga?"
                                                               
                                                                     ***
         Cat warna-warni menari-nari di beberapa rangkaian yang sudah terbentuk. Ada yang berbentuk pipih, lingkaran, banyak juga yang tak beraturan, mengikuti potongan aslinya. Salah satunya ada yang seperti badak. waktu sedang membuatnya, aku ingat nasib badak di Ujung Kulon sana, yang semakin terjepit.Patung badakku memang tak seindah Tuhan mendesain badak sesungguhnya. Culanya aku ganti dengan gergaji yang diposisikan terbalik, yang tajamnya berada di atas.
          Seandainya cula-cula badak itu diganti dengan gergaji, apakah orang-orang rakus itu tetap memburu? Cula bagi badak, ibarat kuku. Bagaiman kalau kuku nkita dicabut, sementara kita masih hidup? Dalam keadaan terluka, sang badak ditinggalkan begitu saja, sungguh merana. Cula-cula mereka dikorbankan untuk satu kata, uang.
         Aku meramu dan meramu limbah kayu menjadi sesuatu yang baru, sesuai bisikan seniku. ada yang berbentuk lingkaran, di tengah-tengahnya ada patung tubuh wanita seksi tanpa kepala(yang biasa dipakai buat memajang pakaian di mall-mall). Di bagian dada aku beri lingakaran-lingkaran bersusun, seperti sasaran panah. Di samping kirinya kutulis si Pedosipilia (plesetan dari pedophilia), dan di kanannya kugambar seorang bocah sedang dikejar-kejar setan. Maksudnya, penyakit pedophilia merebak dimana-mana, dan anak-anak yang jadi korbannya. Demi memuaskan seks yang tidak pada tempatnya.
        Aku membayangkan bagaimana jika anak-anakku sendiri yang jadi korban? Yang pasti, betapa hancur hati orangtuanya. Bagaikan diiris-iris sembilu, karena si jantung hati akan mengalami kerusakan fisik maupun mental. Sungguh tega orang-orang yang memanfaatkan anak-anak untuk memuaskan nafsu iblis mereka. Dadaku tersengal-sengal membayangkan kebejatan mereka.
      Di antara suasana pasar yang ramai, hatiku berdesing, protes dengan kondisi politik yang semakin hari kian tak karuan menjelang pemilu. Di dalam pasar pun, begitu banyak gambar-gambar partai dan foto-foto caleg terpampang di dinding-dinding kios. Bebdera-bendera partai pun, bertebaran dimana-mana. Suatu pemandangan yang memuakkan.
       Di rangkaian pipih, yang kususun papan secara horisontal, tapi kubuat memanjang, hampir menyentuh lantai. Kutulis nama samaranku sebagai judul. Kutorehkan uneg-uneg yang membara dalam hati. Kalimat-kalimat sakti berbentuk puisi itu adalah:

                                            ROBINWOOD

 Merayakan sisa sampah peti kayu
yang terbuang pasca kenyang syahwat
Kuliner urursan perut, terpojok di sudut jorok, pada sampahan akhir zaman.
Memunguti, melucuti, mengkontruksi kembali
Memukuli, tak juga mensakiti semut/kecoa/belatung/cacing/kelabang yang juga mahluk eksotis
             temanku... hehey,
             Mahluk spiritual yang kepengen terus belajar jadi manusia
             Ini bukan soal tindakan go-green atau
             Kelakuan environment act, bagiku ini sesuatu yang biasa-biasa saja kok
             Semua manusia berbuat... bukan hanya Robinwood.
      Belantara kota adalah hutan belantara buas, saat Tarzan politik bergelayutan
      pada rindang pohon uang, singa dewan berakrobat di belantara hidup,
      menguburi akal sehat, membunuh kemerdekaan azasi dengan tempelengan
      perjanjian baru yang selalu dibuat baru setiap waktu.
      Dan seterusnya...

             Aku menamakan diriku Robinwood, dalam setiap karyaku. Aku berharap bisa menjadi pahlawan kayu, seperti halnya Robinhood menjadi pembela rakyat kecil. Semoga para Tarzan-Tarzan politik tak lagi bergelayutan pada rindang pohon uang. Tetatapi bergelayutan pada rindangnya pohon kemanusiaan. Dan memanusiakan manusia dengan selayaknya. Singa-singa dewan juga jangan terus-terusan berakrobat, membunuh kemerdekaan hak azasi.

Tamat


Serang, menjelang pemilu 2014