Senin, 16 Maret 2015

Move On

Tak ada gunanya larut dalam kesedihan. Masa lalu tak akan pernah kembali, mengapa disesali? Kita seharusnya bersyukur, masih diberi kehidupan sampai detik ini. Mencoba berfikir positif, bagaimana pun dengan berfikir positif, maka aura positif akan mengelilingi kita. 

Jumat, 13 Maret 2015

Menjadi Manusia yang Lebih Baik

Untuk menjadi manusia yang lebih baik itu  sederhana, yaitu "IKHLAS".

(Abimana, dalam acara "Ada-ada Saja" di Global TV - membahas tentang kesimpulan film "Haji Backpacker")

Minggu, 01 Maret 2015

Ada-ada Saja

Ada-ada Saja

Ada dua pemuda aneh tingkah lakunya
dua-duanya sama ingin kawin segera
Namun tiap harinya tak pernah berusaha
hanya pandai bercinta meski uang tak ada
Hey ada-ada saja

Bila malam tiba dia segera bersolek bersama
bukan main asyiknya...
Sepatu sudah lama jadilah juga
berminyak kelapa memang sudah biasa

Namun tak jadi soal uang tak ada
asal keluar rumah sudah senang hatinya
Hey ada-ada saja
(cipt A.Rafiq)

Syair lagu di atas lucu ya? Gue kepikiran buat nulis di blog ini, karena abis nonton Film "Karena Dia (tahun 1979)".  Filmnya diawali dengan lagu ini. Fimnya seru... ada sedih, senang and lucu. Tentang perjuangan seorang musisi mengawali karirnya. Ia merantau dari Pekalongan ke Jakarta. Segala rintangan dan cobaan betubi-tubi menghantamnya. Dan akhirnya ia sukses menaklukan Ibu Kota, berkat dukungan seorang wanita yang mencintainya.

Jumat, 27 Februari 2015

Selepas Pengajian Dhuha (catatan sabtu, 28 Februari 2015)

      Seperti biasa, Sabtu ini (28/02) aku menghadiri Majelis Dhuha di Masjid Almadinah di belakang CBD Ciledug, Tangerang Selatan. Sebuah pengajian mingguan yang didahului dengan sholat dhuha, zikir dan mendengarkan ceramah dari kyai.

    Ceramah dari sang kyai belum selesai, tapi rasa kantuk mulai merayapi mataku, Lalu kulangkahkan kaki ke sebuah warung kopi tenda di sebelah kiri masjid. Aku minum kopi, merokok, dan melahap sepotong bakpao yang ada di meja, lalu membeli pisang molen dan tahu goreng seharga Rp 5000 kepada tukang gorengan gerobak di sebelahku. Aku bersalaman dengan pembeli yang baru datang. Dan  ngobrol dengan mereka, sebagai upaya mengakrabkan diri dengan sesama jamaah. 

    Tak ada keangkuhan di lingkungan ini, semua jamaah menunjukkan sikap bersahabat. Sepertinya mereka semua langsung mempraktekkan ilmu yang telah didapatkannya, "Hablum minallah dan hamblum minan nas", yaitu berhubungan baik kepada Tuhannya dan berhubungan baik kepada sesamanya. Alangkah indahnya negeri ini jika sikap seperti ini diterapkan di berbagai lini. Tak ada gontok-gontokkan yang silih berganti, karena semuanya saling menyayangi.

      Langit agak mendung, tapi udara terasa gerah, mungkin mau hujan? Udaranya terasa ngelekeb... mungkin Bahasa Indonesianya lembab, maksudnya kelembaban udaranya sedang tinggi. Setelah membayar kopi dan bakpao aku menuju tunggangan yang ada di parkiran. Sudah banyak jamaah yang meninggalkan masjid, tapi parkiran cukup ramai, ada yang sedang menunggu kawan, dan masih ada yang ngobrol seraya mengeluarkan motor.

     Aku mendekati kuda besiku yang sedang menanti dipojokkan. Aku mulai memakai jaket, dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk berkendara. Jarak kira-kira 3 meter dariku ada seorang gadis berdiri anggun. Ia berbusana muslim, dengan atasan bermotif kembang-kembang, jilbabnya dan rok panjang berwarna pink. Tak lama kemudian kawannya menghampiri dengan motor bebek hitam, dan memboncengnya. Si anggun berlalu, rok panjang pink-nya berjuntai-juntai diterpa angin. Setelah menaruh lembaran uang kertas ke kotak kardus yang sedang dipegang security, motor mereka melaju meninggalkan gerbang, lantas hilang dari pandangan. Subhanallah... begitu anggun wanita itu. Mudah-mudahan kita bertemu lagi ya... bisikku dalam hati.

Selasa, 17 Februari 2015

Jam 9 lebih

     Jam 9 lebih, pagi yang cerah buat ukuran musim hujan. Aku memacu kuda besiku, melewati gundukan-gundukan tanah yang berbaris rapi, Pemakaman Tanah Kusir. Kulihat makam Sang Proklamator tampak anggun dengan rumah minangnya yang disekat kaca-kaca bening, sungguh elok sekali. mobil-mobil tampak merayap, hanya sepeda motor yang bisa melenggang.

     Kubergegas melewati jalan tikus, melewati Kecamatan Kebayoran Lama, lalu memotong lewat Bungur dan  berhenti sebelum Taman Gandaria, sekadar buat ngobrol dan ketawa-ketiwi bersama tukang kopi keliling serta beberapa sopir yang sedang menunggu majikan.

     Lalu aku menuju Gedung LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), di Jl. Gatot Subroto. Menurutku gedung ini terlihat kokoh tapi aneh, karena berbentuk empat persegi panjang, tapi bagian belakang berbentuk seperti tabung besar yang menempel. Keseluruhannya berkeramik putih. Aku memasuki gerbang, lalu memarkir sepeda motor. Setelah itu bertanya kepada security, letak perpustakaan, dan mereka menunjukkannya. sesampainya di Perpustakaan, aku disuruh mengisi buku tamu yang berwujud digital. Kemudian menaruh tas di loker lalu ditunjukkan kearah lift.

       Aku memasuki lift, dalam sekejap aku sudah sampai lantai 4 Perpustakaan LIPI, rak-rak alumunium berwarna abu-abu dan buku-buku tua berjejer dengan rapih. Ruangan ini terkesan klasik, dan terkesan angker, rasanya bulu kudukku merinding dibuatnya, ditambah lagi pengunjung yang sepi. Rasanya aku seperti terdampar dalam jaman VOC.

       Kusingkirkan perasaan macam-macam yang menggelayuti, lalu aku menuruni tangga berkeramik putih berilling alumunium menuju lantai 3, memburu majalah baru yang masih hangat-hangat kuku. Majalah-majalah berada di tengah-tengah ruangan yang amat luas, rak-rak alumunium abu-abu berbentuk segi empat, mengelilingi sofa cokelat tua yang besar dan membal beserta meja kayu bertaplak putih.

     Kutengok majalah-majalah dalam dan luar negeri. Kubaca majalah dari negeri ginseng, nama majalahnya Korea. Majalah ini bertemakan tentang pernak-pernik kebudayaan Korea, seperti beladiri taekwondo yang menjadi salah satu ikon negeri tersebut. Tarian dan busana juga menyemarakkan majalah berbahasa Inggris itu.
     
     Sambil membaca majalah, dari kejauhan pandanganku tertuju tiga dara yang sedang berdiri di belakang mesin pencarian. Gadis yang paling mungil berjilbab kelabu, kemeja kembang-kembang berwarna lembut.  Gadis yang paling tinggi berjilbab cokelat muda dan berswiter cokelat tua. Dan yang paling gemuk , tidak memakai jilbab, tapi stelan kaos panjang garis-garis hitam abu-abu dan celana jeans. Mereka konsentrasi mencari kode jenis buku /ensiklopedia yang sedang dicari.

     Bosan duduk di sofa, aku melangkah ke meja besar berbentuk oval yang terbuat dari kayu jati. Kubaca majalah sambil melirik ke kanan dan kiri di seberangku ada gadis cantik berbaju merah dan bercelana jeans ketatyang serius membaca buku. Rambut hitam bergelombangnya yang sebahu dikuncir satu.

     Waktu beranjak siang, dan azan Zhuhur telah berkumandang. Buru-buru aku ke mesjid, menuju lift, turun ke lantai 1, lalu berjalan kaki, kira-kira jaraknya 200 meter. Sehabis sholat lalu mengambil tas di loker, selepas itu pulang
      

Senin, 16 Februari 2015

Adaptasi

     Aku memulai mengadaptasikan diriku untuk kembali menjadi surveyor, berkendara ke beberapa tempat di area Jakarta Selatan dan Tangsel. Aku memulainya dari Pasar Minggu, Pondok Cabe, Ciputat, Jl.Senopati, dan Jl. Gatot Subroto. Entah... aku menjalaninya terasa berat. Aku yang notabene dulu berkutat sebagai pekerja lapangan, kini harus kehilangan kesaktiannya. Aku kok jadi melempem? Aku sekarang tak tangguh, mudah lelah, dan mudah menyerah menghadapi macet, sehingga lebih memilih mesjid untuk beristirahat, lantas pulang. Kalau manusia saja kesulitan beradaptasi, apalagi hewan?

     Aku kok begini? Perasaan aku masih muda? masih 38 tahun, dan belum pantas pensiun. Apakah semangat hidupku sedang mati suri? Entahlah... semuanya sudah berubah, berubah kawan, suasana, situasi, kondisi dan  jaman. Kita mau tak mau setiap ganti era, ganti pula gaya dan tradisinya. Ganti waktu, ganti pula kesempatan yang akan datang. 

Senin, 09 Februari 2015

Jakarta, siang 10 Februari 2015

     Azan zhuhur telah berkumandang, tanda hari berada di tengah-tengah siang. Langit baru saja berhenti meneteskan air matanya, setelah 2 hari terus menerus menyirami bumi, dan mentari baru berani menampakkan wajahnya. 
       Orang-orang kota mengutuk hari karena hujan yang tak henti-henti. Banjir melanda Jakarta. Kali Ciliwung meluap, istana  negara pun ikut terendam. Jl.R.Suprapto, Jl.S.Parman, daerah Cempaka Putih dan Kelapa Gading Kulihat beritanya di TV, kemarin sore saja air sudah sepinggang orang dewasa, apalagi sekarang? 

     Apakah langit lagi ngambek? apakah awan lagi senewen? Karena masyarakat modern lebih senang membangun mall ketimbang melindungi hutan. Pohon-pohon di kota tak diberi napas, karena batangnya ditempel semen dan beton, sehingga mudah sekali tumbang, ditambah lagi sampah-sampah yang dibuang sembarangan. 
        Kata budayawan Sujiwo Tejo dalam suatu acara di TV, "Tidak ada itu bencana alam, yang ada adalah bencana manusia. Kalau terjadi longsor, tanah turun mencari keseimbangannya, karena pohon-pohon ditebang. Jadi bukan  salah alam, tapi salah manusianya."