Minggu, 21 Juni 2015

Melebarkan Hati

     Hari ini memasuki hari ke-5 di bulan Ramadhan, tahun 1436 H. Hawa mendung menyelimuti daerah Petukangan Utara ini. Syukurlah, udara tak terasa panas seperti hari-hari sebelumnya. Sinar Mentari redup, bak lampu pijar berdaya 5 Watt.
     Puasa... berat saat melakukannya, tapi begitu cepat terlewati di saat tak  puasa. Lebaran semakin mendekat. Mendekati pasar, pusat perbelanjaan, terminal, bandara dan pelabuhan . Target membeli sekian potong pakaian per anak sudah menjadi agenda tahunan. Sudah banyak orangtua yang memberi anak-anak mereka pakaian baru. Mau tak mau baju baru harus ada. Paling tidak untuk anak-anak kecil, supaya tak ngambek. karena toh mereka belum mengerti makna hari raya yang sebenarnya.
         Kalau saya tak salah, arti kata "LEBARAN" adalah melebarkan hati, melebarkan pintu untuk saling minta maaf dan memaafkan. Kalau hati sudah lebar, maka aroma dendam akan sirna.

Kamis, 18 Juni 2015

Belajar Ilmu Ikhlas

     Ikhlas... satu kata yang sangat mudah diucapkan, tapi sangat sulit dilakukan. Bahkan Imam Al ghazali berkata, "Ikhlas hanya ada di hati, tak pernah terucapkan. Kalau ikhlas sudah terucapkan, maka butuh keikhlasan berikutnya". 
     Sepengetahuan saya, kata "ikhlas"dalam Bahasa Arab artinya murni. Maksudnya melakukan segala sesuatu murni hanya untuk Allah semata. Bukan karena ingin dapat imbalan, pujian dan balasan dari mahluk lainnya. Kalau melakukan sesuatu bukan karena Allah, namanya bukan ikhlas.

Semoga bermanfaat

Rabu, 17 Juni 2015

Lelah Menjalani Hari

         Lelah terlewati hari, lelah menjalani hari, yang membuat aku muak. Muak dengan segala problema yang memuncak. Energy telah habis untuk urusan birokrasi. Dioper sana oper sini, persis seperti bola. Ditendang dari pemain yang satu ke pemain yang lain, sedangkan kami rakyat kecil cuma dijadikan obyek.        
          Aku pusing dengan masalah yang kian menghadang. Segala urusan bentrok dengan yang namanya uang. bohong kalau gak pakai uang. Semuanya builtsheet. Omong besar. Mau kuliah duit, mau kerja duit. Mau kencing aja duit.
       Benar kata Jamrud dalam sebuah syair, "Berakit-rakit ke hulu, berenang kita  ke tepian. Bersakit dahulu, senang pun tak datang, malah mati kemudian". Pas banget tuh lagu. 

Minggu, 14 Juni 2015

Ingin Memakai Seribu Topeng

Maaf bu....
Aku merasa belum bisa membahagiakan orangtua, khususnya dirimu
Walau kau tak menuntut macam-macam dari anak-anakmu
Tak minta diberi uang banyak, tak minta dibelikan rumah mewah,
mobil mewah, makan di restoran yang wah
tak berharap diajak plesiran keliling eropa, keliling dunia
ataupun menginap di hotel bintang lima
Bukan, bukan itu maumu

Engkau hanya menginginkan kami, anak-anakmu ada di dekatmu,
tanpa terkecuali ...
Bagimu yang terpenting adalah melihat anak-anak dan cucu-cucunya sehat wal afiat
Itulah bahagiamu

Aku merasa mati kutu di hadapanmu bu...
Malu... seakan aku ingin memakai seribu topeng,
untuk menutupi maluku, karena belum jadi anak yang berbakti,
belum menampilkan prestasi diri,
dan belum maksimal memberimu bahagia

38  tahun usiaku, rasanya belumlah cukup
untuk menebus dosa-dosaku kepadamu
menebus kesalahan-kesalahan yang kulakukan, dan kata-kataku yang menyakitkan,
Beribu kebaikan tak cukup rasanya, untuk menutup budi kepadamu ibu...
 Ibu juara satu sedunia

Semakin Dekat

      Dia makin dekat, semakin merapat, ditandai Bulan Sya'ban yang terasa singkat. Tinggal 3-4 hari lagi Ramadhan tiba di sini. Ditandai ITC Cipulir yang kian padat dijejali para pembeli. Diiringi harga rokok yang sudah menanjak, harga telur pun tak mau kalah, perbutirnya saja sekarang sudah Rp 2000. Naik Rp 500,- dari harga sebelummya. Otomatis nantinya harga-harga sembako ikut-ikutan naik. Yang pasti... daging sapi  dan ayam potong bakal naik, dan semakin naik, sampai Hari Raya Idul Fitri. 
       Sudah biasa kalau harga-harga di negeri ini naik, jusru kalau turun yang aneh. Betul tidak? Tiket kereta dan pesawat telah habis diborong para calon pemudik. Kamar-kamar hotel-hotel kelas melati sampai bintang 5 ludes, sudah dibooking calon-calon tamu. Bahkan di bank-bank orang mulai ramai menukar uang receh buat angpao lebaran. Baju-baju koko dan mukena telah dipersiapkan untuk taraweh. Dan petasan tak mau telat ambil bagian, sudah terdengar ramai sebelum Ramadhan. 


Rabu, 10 Juni 2015

Musafir yang Tersesat (Diary)

      Apa yang sedang terjadi dengan diriku? entahlah... aku sendiri tak tahu. Aku seperti musafir yang kehilangan arah, tersesat di padang pasir yang luas. Aku membawa bekal yang sangat banyak, tapi keberatan beban, hingga tersungkur akibat barang bawaan. Peta yang aku bawa tak jelas, maka bekalku hanya habis untuk hidup beberapa hari di padang pasir. Aku kelaparan dan kehausan sebelum sampai tujuan.
        Ternyata kebahagiaan adalah ketenangan, ketenteraman. Aku ingat dengan firman-Nya dalam alquran, "Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS Arra'du ayat 28)." MakaTak ada ada jalan lain untuk menjadi  tenang, tenteram, yaitu bertaubat,  kembali pada-Nya.

Senin, 08 Juni 2015

Surat buat Ibu 3

Bu...
aku masih menjadi anakmu yang menyusahkan
aku malu bu, sampai detik ini masih belum mandiri
masih mendompleng dengan orangtua
Dan belum mampu "BERDIKARI", berdiri di kaki sendiri

Bu...
Kau tak pernah lelah bekerja dan berdoa
demi anak-anakmu energimu rasanya takkan pernah habis
berjuang, berjuang dan berjuang
agar kami, anak-anakmu bisa bertahan

Hatimu bak baja yang kuatnya tak ketulungan
Nyawamu seakan ada seribu, karena jiwamu takkan pernah mati